Allah Perjanjian Lama adalah Allah Trinitas yang adalah Allah Sempurna walaupun tidak dinyatakan secara penuh. Karena demikian permasalahannya, maka tidak heran bahwa banyak hal di dalam Perjanjian Lama hanya bisa dipahami dalam terang doktrin Trinitas (yang sekarang telah sepenuhnya dinyatakan).
Misalnya di dalam Kejadian 1:1-3 kita melihat rujukan-rujukan yang berbeda kepada Allah, yaitu Allah, Allah Firman dan Allah Roh. Dalam kejadian 1:26 Allah sesuai dengan keputusan kehendak-Nya sendiri, berbicara dalam diri-Nya sendiri, untuk membentuk manusia “dalam gambar Kita.” Bagaimana hal ini mungkin jika Allah bukan tiga Pribadi sekaligus esa? Dalam Kejadian 11:5,7 kita membaca bahwa Allah turun untuk melihat kota dan menara Babel, dan saat berbicara, Dia berkata, “Baiklah Kita turun.”
Kita juga menemukan seorang “Malaikat Tuhan” sering menampakkan diri kepada bangsa pilihan Allah dalam Perjanjian Lama (Kej.32:24). Dia memiliki penampilan seorang manusia (32:24) tetapi dikenali sebagai Allah (ay.30). Malaikat ini, yang dikenali sebagai Allah, tetapi juga dilukiskan sebagai yang diutus oleh Allah (Kel.23:20-25). Maka orang yang sungguh-sungguh percaya harus mengakui bahwa Malaikat yang diutus Allah adalah juga Allah.
Dia memiliki kuasa untuk “mengampuni pelanggaran-pelanggaran” karena Allah berkata “Nama-Ku ada di dalam Dia” (Kel.23:21). Tetapi walaupun:
· orang percaya di zaman Perjanjian Lama mengetahui bahwa Allah sejati adalah esa,
· tetapi Malaikat Allah (yang diutus Allah) adalah Allah,
· juga terdapat pengenalan yang jelas akan kehadiran Roh Kudus (Mzm.51:13, bdk. 1Sam.16:13-14) yang berbeda dari “Allah” maupun “Malaikat”.
Maka walaupun orang-orang percaya di zaman Perjanjian Lama belum melihat manifestasi yang sempurna dari ketiga Pribadi sebagaimana kita saat ini (di dalam Kristus yang berinkarnasi, dan Roh Kudus yang dicurahkan pada hari Pentakosta), tetapi tidak dapat disangkal bahwa Allah yang dinyatakan di dalam Sejarah Perjanjian Lama secara bertahap adalah Allah Trinitas yang sama dan bukan Allah yang lain.
Dengan mengenal Allah Perjanjian Lama sebagai Allah Trinitas sebagaimana kita sekarang mengenal-Nya, semua catatan Perjanjian Lama menjadi masuk akal, sesuatu yang mustahil terjadi jika Allah Perjanjian Lama bukan Allah Trinitas. Juga terdapat nubuat, pernyataan yang meskipun tidak dipahami secara sempurna di zaman tersebut (1Pet.1:10-11) yang memerlukan doktrin Trinitas untuk menggenapinya. Karena itu Yesaya memberitahukan kepada bangsa Israel bahwa Tuhan Allah akan mengaruniakan seorang Putra yang lahir dari seorang anak dara yang akan disebut Imanuel (yang berarti “Allah beserta kita,” Yes.7:14). Dia juga disebut “Allah yang perkasa” (Yes.9:5). Bagaimana mungkin Allah mengaruniakan Allah jika tidak terdapat pluralitas Pribadi di dalam esensi Allah? Beberapa bagian ini hanyalah contoh dari fakta bahwa meskipun Iman Kristen mengenai doktrin Trinitas tidak dinyatakan (sepenuhnya) dalam Perjanjian Lama, tetapi Allah yang dinyatakan (secara parsial dan sebagai antisipasi) adalah Allah Trinitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar